WARTA 24 SULAWESI TENGAH

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Menengok Potensi Ekonomi di Kabupaten Morowali

Posted by On 18.49

Menengok Potensi Ekonomi di Kabupaten Morowali

Salah satu tambang nikel terbesar di Morowali, Sulawesi Tengah.KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Salah satu tambang nikel terbesar di Morowali, Sulawesi Tengah.

MOROWALI, KOMPAS.com - Provinsi Sulawesi Tengah ternyata punya "lumbung" nikel yang terkenal di mancanegara, yakni Morowali.

Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali Jafar Hamid mengatakan, kabupaten yang berbatasan dengan Sulawesi Tenggara ini punya lebih dari 200.000 hektar tambang nikel.

Tambang nikel Morowali terkenal hingga mancanegara, dengan kualitas nomor satu di Asia Tenggara.

"Yang membuat kualitasnya bagus itu, kadar nikel nya itu sampai 40 persen. Sekarang sudah ada smelternya sendiri, jadi pengolahan pun dilakukan di sini," kata Jafar saat kunjungan Kompas.com ke Kantor Bupati Morowali, Selasa (27/2/2018).

Baca juga : Berita Foto: Ini Dia Penampakan Bandara Baru Morowali Sulteng

Pertambangan nikel menjadi andalan dari perekonomian Morowali. Ada 10 perusahaan pertambangan nikel besar di daerah ini yang menyerap tenaga kerja lokal hingga 19.000 orang.

Sayangnya, nikel merupakan bahan tambang yang bisa habis. Dari total 200.000 hektar tambang nikel Morowali diperkirakan masih bisa ditambang hingga lebih dari 60 tahun yang akan datang.

Untuk itu, pemerintah Kabupaten Morowali harus segera menyiapkan sumber pendapatan lain. Ada sejumlah sektor yang sedang disiapkan sebagai pengganti nikel.

Pertama, dari sektor perkebunan. Komoditas unggulannya ialah kelapa sawit. Dari data yang dipaparkan Jafar, Morowali memiliki luas perkebunan sawit hingga 6.000 hekta r.

Baca juga : 2018, Kawasan Industri Morowali Targetkan Produksi Stainless Steel 3 Juta Ton

Komoditas lainnya seperti pala, singke, dan kakao menyusul untuk dikembangkan setelah kelapa sawit.

Kedua, dari sektor perikanan. Wilayah perairan Morowali yang tak kalah luas juga membuatnya maju dalam bidang perikanan. Mata pencaharian sebagai nelayan disebut kedua terbanyak di daerah ini.

Pusat perikanan ada di Kepulauan Bungku Selatan, dan Kepulauan Menui. Komoditas hasil lautnya berupa ikan tuna serta budidaya rumput laut.

Ketiga, pariwisata. Saat ini pariwisata masih jadi prioritas terbelakang. Pasalnya, pemerintah Morowali baru memasuki tahap awal untuk terus membangun kebutuhan industri pariwisatanya.

Baca juga : Hingga 2020, Kawasan Industri Morowali Butuh 10.800 Tenaga Kerja

Sejumlah potensi daerah belum tergarap maksimal sehingga wisatawan masih sepi. Selain itu, masih minim industri pendukung pariwisata seperti hotel dan restor an. Event wisata sebagai komponen pendukung pun tahun ini baru mulai diadakan, yaitu Festival Sombori.

Kompas TV Sebagai kepala daerah sudah seharusnya memiliki sikap yang baik sebagai contoh bagi masyarakat yang ia pimpin.

Berita Terkait

2018, Kawasan Industri Morowali Targetkan Produksi Stainless Steel 3 Juta Ton

Hingga 2020, Kawasan Industri Morowali Butuh 10.800 Tenaga Kerja

Kemenperin Dorong Pengembangan IKM Sektor Pakaian di Morowali

Industri Smelter di Morowali Serap Investasi Rp 78 Triliun

Bandara Morowali Sulawesi Tengah Diresmikan Maret 2017

Terkini Lainnya

Sri Mulyani Akui Sistem Keuangan Digital di Indonesia Rawan Diretas

Sri Mulyani Akui Sistem Keuangan Digital di Indonesia Rawan Diretas

Keuangan 03/03/2018, 08:00 WIB Masih Ada 68 Juta Masyarakat yang Belum Terdaftar JKN-KIS

Masih Ada 68 Juta Masyarakat yang Belum Terdaftar JKN-KIS

Makro 02/03/2018, 21:03 WIB Uang Masyarakat Yang Hilang karena Investasi Bodong Capai Rp 105 Triliun

Uang Masyarakat Yang Hilang karena Investasi Bodong Capai Rp 105 Triliun

Keuangan 02/03/2018, 20:30 WIB Sri Mulyani: Sumber Kekayaan Bukan Lagi Tambang Emas, tapi Data

Sri Mulyani: Sumber Kekayaan Bukan Lagi Tambang Emas, tapi Data

Makro 02/03/2018, 20:10 WIB Walau Rupiah Tertekan Penguatan Dollar AS, BI Jamin Ekonomi Indonesia Terjaga

Walau Rupiah Tertekan Penguatan Dollar AS, BI Jamin Ekonomi Indonesia Terjaga

Makro 02/03/2018, 19:15 WIB China Dinilai Harus Respons Kebijakan Tarif Impor Baja dan Aluminium AS

China Dinilai Harus Respons Kebijakan Tarif Impor Baja dan Aluminium AS Makro 02/03/2018, 18:15 WIB Prudential Indonesia Bantu Sekolah di Papua

Prudential Indonesia Bantu Sekolah di Papua

Makro 02/03/2018, 17:15 WIB Pekan Ini, Kekayaan Warren Buffett Merosot Rp 51,6 Triliun, Mengapa?

Pekan Ini, Kekayaan Warren Buffett Merosot Rp 51,6 Triliun, Mengapa?

Inspirasi 02/03/2018, 16:15 WIB Selama IMF-World Bank Annual Meeting, Uang Berputar Diprediksi Capai Rp 5,7 Triliun

Selama IMF-World Bank Annual Meeting, Uang Berputar Diprediksi Capai Rp 5,7 Triliun

Makro 02/03/2018, 16:00 WIB Pemerintah di Dua Kota Ini Laksanakan Sanksi Tegas terhadap Pelanggaran Transportasi Daring

Pemerintah di Dua Kota Ini Laksanakan Sanksi Tegas terhadap Pelanggaran Transportasi Daring

Rilis 02/03/2018, 15:22 WIB Harga Beras, Cabai Merah, BBM, dan Rokok Sebabkan Inflasi DKI Jakarta 0,37 Persen

Harga Beras, Cabai Merah, BBM, dan Rokok Sebabkan Inflasi DKI Jakarta 0,37 Persen

Rilis 02/03/2018, 15:15 WIB Apa Saja yang Akan Dibahas saat IMF-World Bank Annual Meeting 2018?

Apa Saja yang Akan Dibaha s saat IMF-World Bank Annual Meeting 2018?

Makro 02/03/2018, 14:45 WIB Tahun Ini Seluruh Bandara AP1 Punya 'Airport Operation Control Center'

Tahun Ini Seluruh Bandara AP1 Punya "Airport Operation Control Center"

Makro 02/03/2018, 14:41 WIB Satu Rangkaian Alami Gangguan, Kereta Bandara Soekarno-Hatta Tetap Beroperasi

Satu Rangkaian Alami Gangguan, Kereta Bandara Soekarno-Hatta Tetap Beroperasi

Makro 02/03/2018, 14:30 WIB Microsoft Akan Beli Listrik Energi Surya di Singapura

Microsoft Akan Beli Listrik Energi Surya di Singapura

Bisnis 02/03/2018, 14:15 WIB Load MoreSumber: Google News | Warta 24 Morowali

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »